Minggu, 12 Februari 2012

rukun iman


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Beragama adalah suatu bentuk keyakinan manusia terhadap berbagai hal yang diajarkan oleh agama yang dianutnya. Beragama berarti meyakini secara bulat terhadap pokok-pokok ajaran dan keyakinan sebuah agama, oleh karena itu tidak ada manusia yang mengaku beragama tanpa ia meyakini apa-apa yang ditetapkan oleh agama tersebut.
Dalam agama islam terdapat pilar-pilar keimanan yang dikenal dengan rukun iman, terdiri dari enam pilar, keenam pilar tersebut adalah keyakinan islam terhadap hal-hal ghaib yang hanya dapat diyakini secara trasendental, sebuah kepercayaan terhadap hal-hal yang diluar daya nalar manusia. Rukun iman (pilar keyakinan) ini terdiri dari : 1. Iman kepada Allah, 2. Iman kepada Malaikat, 3. Iman kepada kitab, 4. Iman kepada rasul, 5. Iman kepada hari akhir, 6. Iman kepada qada dan qadar.
Enam pilar keimanan umat islam tersebut merupakan sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Tanpa mempercayai salah satunya maka gugurlah keimanannya, sehingga mengimani ke enam rukun iman tersebut merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat ditawa-tawar lagi.
Oleh karena itu, penulis akan mengkaji berbagai hal yang menyangkut enam pilar keimanan tersebut, baik dalil-dalilnya maupun pengaruh keimanan tersebut terhadap kehidupan seorang muslim. Diharapkan kajian tersebut akan menambah pemahaman penulis mengenai pentingnya rukun iman dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.






B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka berikut ini rumusan masalah yang akan dikaji dalam makalah ini, yaitu ;
1. Apakah yang dimaksud rukun iman ?
2. Bagaimana penjelasan tentang rukun iman?


C. Tujuan penulisan

Tujuan penyusunan makalah yang bertema tentang rukun iman ini adalah :
1. Memahami maksud dengan rukun iman ?
2. Mengetahui penjelasan tentang rukun iman?
















BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian rukun iman

Rukun iman dapat diartikan sebagai pilar keyakinan, yakni pilar-pilar keyakinan seorang muslim, dalam hal-hal ini terdapat enam pilar keyakinanatau rukun iman dalam ajaran islam yaitu :
Iman kepada Allah SWT
- Patuh dan taat kepada ajaran Allah dan hukum-hukum-Nya.
Iman kepada malaikat (makhluk ghaib)
- Mengetahui dan percaya akan keberadaan kekuasaan dan kebesaran Allah si alam semesta.
Iman kepada kitab-kitab Allah SWT
- Melaksanakan ajaran Allah dalam kitab-kitab-Nya secara hanif. Salah satu kitab Allah adalah Al-Qur’an.
- Al-Qur’an memuat tiga kitab Allah sebelumnya, yaitu kitab-kitab zabur, taurat, dan injil.
Iman kepada Rasul-rasul Allah SWT.
- Mencontoh perjuangan para Nabi dan Rasul dalam menyebarkan dan menjalankan kebenaran yang disertai kesabaran.
Iman kepada hari akhir
- Paham bahwa setiap perbuatan aka nada pembalasan.
Iman kepada Qada dan Qadar
- Paham pada keputusan serta kepastian yang ditentukan Allah pada alam semesta.
Mengenai Rukun Iman ini berikut dalil-dalilnya :

                  • . . . . . .    
Artinya :
“ bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi. . . . . .”. (QS Al-Baqarah : 177)


1. IMAN KEPADA ALLAH SWT
Akidah yang mendasar adalah tauhid atau beriman kepada Allah SWT. Beriman kepada Allah SWT adalah keyakinan teguh akan wujud Allah SWT, dan bahwasanya Dia adalah Rabb dan pemilik segala sesuatu, hanya Dialah Sang pencipta dan hanya Dialah yang berhak disembah (diibadahi), tiada sekutu bagi-Nya Lailahaillallah , tiada tuhan yang patut disembah selain Allah SWT.
Unggkapan illah tidak hanya mengandung makna Tuhan, tetapi juga mengandung makna “yang ditaati”. Oleh karenanya, berakidah tauhid, tidak hanya dengan mengakui adanya Allah Yang Maha Esa, yang menciptakan segenap alam semesta, tetapi juga harus taat terhadap apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang.
Tauhid adalah ajaran pokok yang dibawa oleh para Nabi, sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Para Nabi dan Rasul terdahulu senantiasa menyeru umatnya untuk menyadari bahwa Tuhan hanya satu dan Tuhan yang satu itulah yang wajib disembah dan ditaati. Dia tidak boleh disekutukan dengan sesuatu apa pun karena selain Dia, semua di ala mini adalah makhluk yang tidak pantas untuk dutuhankan. Al-quran menegaskan bahwa Allah SWT tidak akan mengampuni mereka yang menyekutukan-Nya .
•                       
Artinya :
“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS An-Nisa : 48)
Atas dasar tauhid ini pula, Allah SWT tidak membenarkan pertuhanan sesama manusia, betapa pun sucinya manusia itu. Karena itu, islam tidak menerima ketuhanan Isa Al-Masih, kendati ia seorang Nabi dan Rasul. Demikian pula, islam tidak menyetujui tradisi kalangan Bani Israil yang secara majasi menyebut orang-orang yang taat kepada Tuhan sebagai “anak Tuhan” dan menyebut orang durhaka kepada-Nya dengan sebutan “anak setan”. Secara tegas Al-Qur’an menjelaskan bahwa Tuhan tidak mempunyai anak dan juga tidak mengadopsi anak.
                      •    
Artinya :
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS Al-Ikhlas : 1-4)
Al-Qur’an begitu lugas menjelaskan kemahaesaan Allah SWT. Al-Qur’an menyatakan bahwa sekiranya dilangit dan dibumi terdapat banyak tuhan, niscaya langit dan Bumi ini akan hancur.
                
Artinya ;
“ Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”. (QS Al-Anbiya : 22)
Kemahaesaan Allah SWT dapat mudah kita pahami dengan mengibaratkan sebagai sebuah kerajaan yang hanya mempunyai seorang raja. Jika sebuah kerajaan mempunyai lebih dari seorang raja, niscaya kerajaan itu akan hancur berantakan karena masing-masing raja akan bertarung untuk menunjukkan keunggulan dirinya.

2. Iman kepada makhluk ghaib
Pandangan mata kita terbatas. Pendengaran pun juga terbatas. Begitu juga halnya dengan akal budi kita. Jika beberapa orang berada dalam sebuah rumah tertutup, lantas terdengar bel pintu luar bordering tanda datangnya seorang tamu, maka mereka tidak dapat mengetahui identitas sang tamu dan maksud kedatangannya.
Penglihatan manusiaini terbatas, karena indra manusia hanya bisa melihat hal fisik/jasmani, namun tidak bisa melihat hal-hal yang metafisik (ghaib). Walaupun tidak bisa dilihat, bukan berarti hal gaib tidak ada. Sebab banyak benda yang tidak dapat dilihat di dunia ini, akan tetapi benda itu ada. Angin misalnya, kita tidak dapat melihatnya, tetapi hembusannya dapat kita rasakan.
Allah SWT berfirman :
                                    
Artinya :
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)". (QS Al-An’am : 59)

Iman kepada Malaikat
1. Malaikat
a. Sifat dan tugas malaikat
Malaikat adalah akhluk ghaib yang diciptakan Allah dari cahaya, senantiasa menyembah Allah, tidak pernah mendurhakai perintah Allah SWT serta senantiasa melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.
Malaikat berjumlah sangat banyak dan tidak ada yang dapat menghitungnya, kecuali Allah SWT. Malaikat diciptakan oleh Allah SWT dari nur (cahaya). Karena diciptakan dari cahaya, maka wajar bila malaikat termasuk makhluk gaib yang sifat-sifatnya berbeda dengan manusia. Sifat-sifat malaikat antara lain :
Tidak pernah durhaka atau membangkang terhadap perintah Allah SWT.
        ••                
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS At-Tahrim : 6)
Taat terhadap segala apa yang diperintahkan Allah SWT.
Senantiasa bertasbih kepada Allah SWT.
Tidak memiliki nafsu.
Mempunyai kemampuan yang luar biasa dengan izin-Nya.
Nama Malaikat yang wajib kita ketahui ada 10 nama dan beserta tugasnya masing-masing :
1. Jibril, bertugas menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada Nabi dan Rasul
2. Mikail, bertugas membagi rezeki kepada seluruh makhluk Allah SWT
3. Izrail, bertugas mencabut roh (nyawa) semua makhluk termasuk nyawa malaikat dan dialah yang mencabut nyawanya sendiri
4. Israfil, bertugas meniup sangsakala (terompet) pada saat tiba hari kiamat dan ketika akan dibangkitkan manusia dari alam kubur
5. Raqib, bertugas mencatat segala amal perbuatan baik manusia
6. Atid, bertugas mencatat segala amal perbuatan buruk manusia
7. Munkar, bertugas mengadili manusia di alam kubur
8. Nakir, bertugas mengadili manusia di alam kubur
9. Ridwan, bertugas menjaga Surga
10. Malik, bertugas menjaga Neraka

2. Makhluk gaib selain Malaikat (jin, iblis, dan setan)
Sebagaimana dijelaskan di atas, selain malaikat ada makhluk gain lain yang  justru sangat berbeda dengan malaikat, yaitu jin, iblis dan setan. Sebagai muslim, yakin akan adanya jin, iblis dan setan adalah wajib hukumnya.
a. Jin
Jin secara literal berarti sesuatu yang berkonotasi “tersembunyi” atau “tidak terlihat”. Hal itulah yang memungkinkan kita mengkaitkan dengan sifat yang umum “alam tersembunyi”.
Allah SWT menjelaskan jika manusia diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas. Sesuai Firman Allah SWT :
       •    •         
Artinya :
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.
“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas”.(QS Al-Hijr : 26-27)
Dari api yang amat panas inilah Allah SWT telah menciptakan jin, yaitu sel atau atom dari nukleas-nukleas api. Kemudian Allah memasukkan roh atau nyawa, maka jadilah ia hidup seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT. Jin juga diberi izin oleh Allah menzahirkan berbagai bentuk dan rupa, tentunya yang disukai dan dikehendakinya kecuali rupa Rasulullah Saw.
b. Setan/ iblis
Setan berasal dari golongan jin yang durhaka. Iblis diusir Allah dari surge karena menentang perintah-Nya. Iblis tidak mau bersujud kepada Nabi Adam As sebagai penghormatan ciptaan-Nya yang mulia.
Allah SWT memberikan derajat manusia lebih tinggi daripada makhluk-makhluk yang lain karena manusia diberikan akal. Sehingga manusia mampu untuk membedakan yang baik dan yang buruk.
Kisah tentang keutamaan dan kekufuran iblis tersebut, terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 30-37.
                     •                                       •                                                      •                                                      
Artinya :
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
32. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."
33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
34. dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.
35. dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.
36. lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari Keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."
37. kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.


3. Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT
Pengertian Kitab dan suhuf
Kitab secara bahasa mempunyai arti tulisan. Sedangkan menurut istilah, kitab adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umatnya sebagai petunjuk dan pedoman petunjuk hidup.
Suhuf menurut bahasa berarti lembaran. Adapun suhuf menurut istilah adalah wahyu yang disampaikan kepada rasul, kan tetapi tidak wajib disampaikan kepada manusia.
Beriamn kepada Kitab-kitab Allah SWT.
Beriman kepadakitab-kitab Allah SWT adalah meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Allah SWT memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para Nabi dan Rasul-Nya; yang benar-benar merupakan kalam (firman, ucapan)-Nya. Kitab-kitab itu adalah cahaya dan petunjuk dari Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT :

        •                  •     

Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. (QS. An-Nisa’ :136)

Kitab-kitab Allah SWT ada 4, yaitu :
1. Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa AS berbahasa Ibrani
2. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud AS berbahasa Qibti
3. Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa AS berbahasa Suryani
4. Kitab Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW berbahasa Arab

1. Kitab Zabur
Kitab Zabur adalah kumpulan firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Daud as.
          •         
Artinya :
“Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. dan Sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.(QS. Al-Isra’ : 55)

Kitab Zabur berisi kumpulan mazmur, yakni nyanyian rohani yang dianggap suci (Inggris: Psalm) yang berasal dari Nabi Daud as. 150 nyanyian yang terkumpul dalam kitab ini berkisah tentang seluruh peristiwa dan pengalaman hidup Nabi Daud as. mulai dari mengenai kejatuhannya, dosanya, pengampunan dosanya oleh Allah, sukacita kemenangannya atas musuh Allah, kemuliaan Tuhan, sampai kemuliaan Mesias yang akan datang. Jadi kitab ini sama sekali tidak mengandung hukum-hukum atau syariat (peraturan agama), karena Nabi Daud as. diperintahkan oleh Allah SWT mengikuti peraturan yang dibawa oleh Nabi Musa as.

Secara garis besarnya, nyanyian rohani yang disenandungkan oleh Nabi Daud as. terdiri dari lima macam:
1. Ratapan dan doa individu
2. Ratapan-ratapan jamaah
3. Nyanyian untuk raja
4. Nyanyian liturgy kebaktian untuk memuji Tuhan
5. Nyanyian perorangan sebagai rasa syukur

2. Kitab Taurat
Kitab Taurat adalah kumpulan firman-firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Musa as. Kitab ini berlaku hanya bagi Nabi Musa as. dan Bani Israil. Firman Allah SWT.
              
Artinya :
“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku”. (QS. Al-Isra’ : 2)

Isi pokok kitab ini adalah Sepuluh firman atau Perintah (Ten Commandements) Allah SWT yang diterima oleh Nabi Musa as. ketika berada di puncak gunung Thursina.
Sepuluh   Firman  atau  Perintah yang  mencakup  asas-asas akidah  (keyakinan) dan  asas - asas syariat (kebaktian) itu termuat dalam kitab Keluaran pasal 20: 1-17 dan Kitab Ulangan pasal 5: 1-21. Sepuluh Perintah Allah SWT tersebut sebagai berikut:
1. Keharusan mengakui ke-Esa-an Allah dan mencintai-Nya.
2. Larangan menyembah patung atau berhala, sebab Alllah SWT tidak dapat diserupakan dengan makhluk-makhluk-Nya baik yang ada di langit, di darat, maupun di air.
3. Perintah menyebut nama Allah SWT dengan hormat.
4. Perintah memuliakan hari Sabat (sabtu).
5. Perintah menghormati ayah-ibu.
6. Larangan membunuh sesama manusia.
7. Larangan berbuat cabul (mendekati zina).
8. Larangan mencuri.
9. Larangan berdusta (menjadi saksi palsu).
10. Larangan berkeinginan memiliki atau menguasai barang orang lain dengan cara yang tidak benar.

3. Kitab Injil
Injil adalah kitab yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Isa as. (Yesus Kristus), putra dari Maryam. Firman Allah SWT.
                             
Artinya :
“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi Nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu: Taurat. dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah : 46)

4. Al-Qur’an
Al-qur’an menurut bahasa berarti bacaan. Adapun menurut istilah adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai mukjizatnya dan bagi yang membacanya merupakan ibadah.
  •       
Artinya :
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS Al-Hijr : 9)

Dalam Al-Qur'an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur'an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:
Al-Kitab
Al-Furqan (pembeda benar salah)
Adz-Dzikr (pemberi peringatan)
Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat)
Al-Hukm (peraturan/hukum)
Al-Hikmah (kebijaksanaan)
Asy-Syifa' (obat/penyembuh)
Al-Huda (petunjuk)
At-Tanzil (yang diturunkan)
Ar-Rahmat (karunia)
Ar-Ruh (ruh)
Al-Bayan (penerang)
Al-Kalam (ucapan/firman)
Al-Busyra (kabar gembira)
An-Nur (cahaya)
Al-Basha'ir (pedoman)
Al-Balagh (penyampaian/kabar)
Al-Qaul (perkataan/ucapan)

Hikmah Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT
Dalam menerapkan hikmah beriman kepada kitab-kitab Allah SWT, imlementasinya sebagai berikut:
a. Beriman kepada Allah SWT hukumnya adalah wajib. Harus melakukan, tidak boleh meninggalkan. Orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah akan mendapatkan balasan dari Allah SWT berupa ganjaran.
b. Menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dimana Al Qur’an merupakan penyempurna dari kitab-kitab terdahulu. Orang-orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah akan membuktikan keimanannya selalu sesuai dengan ajaran Allah SWT, sehingga dalam hidupnya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
c. Memberikan kemantapan dalam menjalani keislaman. Al Qur’an adalah firman Allah SWT dan mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bukti kerasulannya dan sampai akhiruz zaman tetap terjaga kemurniannya.
Fungsi beriman kepada Kitab-kitab Allah SWT di antaranya agar manusia :
o Mendapatkan petunjuk hidup agar tidak tersesat dan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
o Mendapatkan penjelasan tentang persoalan-persoalan hidup manusia.
o Dapat membedakan antara yang hak dan yang batil.
o Mendapat kabar gembira dengan surge sebagai imbalan perbuatan baik dan peringatan dengan neraka sebagai imbalan perbuatan buruk.
o Menjadikan kitab Allah sebagai dasar pengambilan keputusan.
o Mendapatkan sumber informasi dunia metafisik yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia.







4. Iman kepada rasul
Nabi dalam bahasa Arab berasal dari kata naba. Dinamakan Nabi karena mereka adalah orang yang menceritakan suatu berita dan mereka adalah orang yang diberitahu beritanya (lewat wahyu). Sedangkan kata rasul secara bahasa berasal dari kata irsal yang bermakna membimbing atau memberi arahan. Definisi secara syar’i yang masyhur, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu namun tidak diperintahkan untuk menyampaikan sedangkan Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dalam syari’at dan diperintahkan untuk menyampaikannnya.
Beriman kepada Nabi dan Rasul termasuk ushul (pokok) iman. Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana beriman kepada Nabi dan Rasul dengan pemahaman yang benar. Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin menyampaikan dalam kitabnya Syarh Tsalatsatul Ushul, keimanan pada Rasul terkandung empat unsur di dalamnya.
Perlu diperhatikan bahwa penyebutan empat di sini bukan berarti pembatasan bahwa hanya ada empat unsur dalam keimanan kepada nabi dan rasul-Nya.
1. Mengimani bahwa Allah benar-benar mengutus para Nabi dan Rasul. Orang yang mengingkari – walaupun satu Rasul – sama saja mengingkari seluruh Rasul. Allah ta’ala berfirman yang artinya. “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’araa 26:105). Walaupun kaum Nuh hanya mendustakan nabi Nuh, akan tetapi Allah menjadikan mereka kaum yang mendustai seluruh Rasul.
2. Mengimani nama-nama Nabi dan Rasul yang kita ketahui dan mengimani secara global nama-nama Nabi dan Rasul yang tidak ketahui. Akan datang penjelasannya.
3. Membenarkan berita-berita yang shahih dari para Nabi dan Rasul.
4. Mengamalkan syari’at Nabi dimana Nabi diutus kepada kita. Dan penutup para nabi adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Sehingga ketika telah datang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib bagi ahlu kitab tunduk dan berserah diri pada Islam Sebagaimana dalam firman-Nya :
                     

Artinya :

“ Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa’ 4:65)

Tugas Para Rasul
Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul. Walaupun penerapan syari’at dari tiap Rasul berbeda-beda, namun Allah mengutus para Rasul dengan tugas yang sama. Beberapa diantara tugas tersebut adalah:
1. Menyampaikan risalah Allah ta’ala dan wahyu-Nya.
2. Dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
3. Memberikan kabar gembira dan memperingatkan manusia dari segala kejelekan.
4. Memperbaiki jiwa dan mensucikannya.
5. Meluruskan pemikiran dan aqidah yang menyimpang.
6. Menegakkan hujjah atas manusia.
7. Mengatur umat manusia untuk berkumpul dalam satu aqidah.

Sifat-sifat Para Rasul :
1. Sifat Wajib
Sifat wajib bagi rasul adalah sifat yang harus dan wajib dimiliki oleh para rasul. Sifat-sifat wajib ini adalah:
a. Siddiq, artinya benar atau jujur. Segala sesuatu yang diterima oleh rasul dari Allah wajib dikatakan dengan benar dan jujur.
b. Amanah, artinya dapat dipercaya. Seorang rasul harus dapat dipercaya untuk menyampaikan seluruh pesan yang diperintahkan oleh Allah swt. sama seperti aslinya, tanpa ditambah atau dikurangi.
c. Tablig, artinya menyampaikan. Maksudnya menyampaikan semua wahyu yang diterima dari Allah walaupun mereka menghadapi halangan dan rintangan yang berat.
d. Fatanah, artinya cerdik dan bijaksana. Seorang rasul haruslah cerdik, karena hanya orang cerdik yang dapat memimpin dan membimbing umat.

2. Sifat Mustahil
Sifat  mustahil  bagi rasul  adalah sifat yang  mustahil dimiliki  oleh  para  rasul. Sifat  mustahi adalah kebalikan dari sifat-sifat wajib bagi rasul. Sifat-sifat mustahil bagi rasul adalah:
a. Kizib, artinya berbohong atau dusta.
b. Khianat, artinya tidak dapat dipercaya.
c. Kitman, artinya menyembunyikan atau tidak menyampaikan.
d. Baladah, artinya bodoh atau dungu.
Sifat-sifat di atas mustahil dimiliki oleh para rasul. Jika rasul memiliki sifat-sifat tersebut, maka dakwah yang disampaikan kepada umatnya tidak akan berhasil, bahkan akan gagal semua.

3. Sifat Jaiz
Sifat jaiz bagi rasul adalah sifat-sifat yang diperbolehkan bagi mereka, yaitu kebolehan berupa sifat-sifat manusiawi yang dimiliki manusia pada umumnya. Sifat-sifat ini disebut sifat basyariah atau sifat kemanusiaan, seperti rasul makan, minum, tidur, beristri, sedih, dan gembira.
5. Iman kepada hari akhir
Pengertian hari akhir
Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa pada saat yang ditentukan Allah SWT lam ini akan hancur dan semua makhluk akan mati. Tidak seorang pun diberitah, termasuk  Rasulullah saw sendiri. Sejak Rasulullah saw masih hidup, manusia banyak bertanya kapan terjadinya kehancuran alam semesta ini. Pertanyaan mereka di abadikan Allah SWT, dalam Firman-Nya berikut.
           ..... 
Artinya :
“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku…. ". (QS Al-A’raf : 187)
Al-qur’an menjelaskan peristiwa hancurnya alam semesta disebut yaumus-sa’ah. Setelah mati,  manusia dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan semua amalnya selama hidup di dunia. Hidup sesudah mati itulah yang disebut hari akhir.
Beriman kepada hari akhir berarti meyakini dengan sepenuh hati adanya pembalasan amal perbuatan manusia selama hidup di dunia. Hari akhir itu bersifat abadi dan tidak berakhir, sebagaimana hari-hari di dunia ini.
Ada tiga golongan manusia menanggapi adanya hari akhir. Ketiga golongan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Golongan pertama adalah kelompok manusia yang mengingkari atau tidak percaya akan adanya hari akhir. Golongan ini disebut Ateis atau mulhid (tidak mempercayai adanya Tuhan).
2. Golongan kedua adalah kelompok manusia yang mempercayai akan adanya reinkarnasi. Reinkarnasi adalah penjelmaan roh manusia yang tidak mati. Kepercayaan seperti ini banyak dianut pemeluk agama Ardi (agama buatan manusia).
3. Golongan ketiga adalah kelompok manusia yang meyakini akan adanya hari akhir. Kepercayaan seperti inilah yang di anut oleh agama samawi (agama yang berasal dari Allah SWT.).

Tanda-tanda akan datangnya yaumul sa’ah (Hari kiamat)
Kiamat ada dua macam, yakni kiamat sugra (kiamat kecil) dan Kubra (kiamat besar).
Kiamat sugra ialah hari kematian seseorang atau berupa kejadian atau musibah yang terjadi di alam ini, seperti kematian setiap saat, banjir bandang, angin beliung, gunung meletus, gempa bumi, peperangan, kecelakaan kendaraan, kekeringan yang kepanjangan, hama tanaman yang merajalela. Keseluruhan rangkaian kejadian tersebut di atas ditinjau dari segi aqidah merupakan peringatan dari Allah. Bagi umat yang beriman hal ini merupakan peringatan dan ujian. Sedangkan bagi umat yang ingkar/kafir merupakan siksaan atau azab Allah swt.
Allah Berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 155-156 :
         •                   
155)“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156)” (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".(Q.S. al Baqarah ayat 155-156)
Sedangkan kiamat kubra hari hancurnya alam semesta (termasuk manusia) atau masa kehancuran seluruh alam semesta secara masal dan berakhirnya kehidupan alam dunia serta hari mulai dibangkitkannya semua manusia yang sudah mati sejak zaman Nabi Adam sampai manusia terakhir, untuk menjalankan proses kehidupan berikutnya, sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran surat al-Zalzalah ayat 1-5.
                          •      
1. apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),
2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
3. dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?",
4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
5. karena Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (QS Al-Zalzalah : 1-5)
Rasulullah saw. Hanya memberi penjelasan tentang tanda-tanda akan datangnya yaumus sa’ah. Tanda-tanda akan datangnya hari kiamat dibagi menjadi dua macam, yakni tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar. Tanda-tanda kecil mencul apabila hari kiamat belum terlampau dekat. Adapun tanda-tanda besar muncul setelah hari kiamat amat dekat (hamper terjadi).
1. Tanda-Tanda Kecil
Yang termasuk tanda-tanda kecil, antara lain :
a. Pembantu telah melahirkan anak majikannya
b. Meluasnya perbuatan maksiat, termasuk perzinaan
c. Jumlah wanita lebih banyak dibanding dengan prianya
d. Ilmu agama tidak dianggap penting lagi

2. Tanda-Tanda Besar
Yang termasuk tanda-tanda besar, antara lain :
a. Matahari terbit dari arah barat
b. Keluarnya dajjal
c. Keluarnya hewan yang aneh dari dalam bumi
d. Turunnya Isa ibnu Maryam
e. Turunnya imam Mahdi

Proses Menuju Fase-fase Kehidupan Akhirat
Pada hari kiamat nanti manusia mengalami beberapa proses tahapan yang antara lain sebagai berikut :
1. Yaumul Barzakh yaitu masa penantian sebelum terjadinya hari kiamat besar (kiamat kubra).
Firman Allah dalam surat al-Mukminun ayat 46 :
•     ….   
Artinya :
“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang……. ". (QS Al-Mukmin : 46)
2. Yaumul Ba’ats (Hari kebangitan dari Alam Kubur)
Firman Allah dalam surat al-Mujadalah ayat 6
                   
Artinya :
“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu  diberitakan-Nya  kepada  mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah SWT.  mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, Padahal mereka telah melupakannya. dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.(Q.S. al-Mujadalah :6)
3. Yaumul Hasyr (Hari Berkumpul di padang Mahsyar)
Firman Allah dalam surat al-An’am ayat 22
              
Artinya :
“Dan (ingatlah), hari yang di  waktu itu  Kami  menghimpun  mereka semuanya  kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik:  " Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu) kami?". (Q.S. al An’am :22)

4. Yaumul Hisãb (Hari Perhitungan/Pemeriksaan)
Firman Allah dalam surat al-Insyiqãq ayat 8
•                      •                •        •   
Artinya :
7. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,
8. Maka Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,
9. dan Dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.
10. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang,
11. Maka Dia akan berteriak: "Celakalah aku".
12. dan Dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).
13. Sesungguhnya Dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). (Q.S. al Insyiqaq :8)

5. Yaumul Mîzan (Hari Pertimbangan Amal)
Firman Allah dalam surat al-Anbiya’ : 87
                         
Artinya :
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam Keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam Keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim." (Q.S.al Anbiya’ : 87)
6. Yaumul Jaza (Hari Pembalasan)
Firman Allah dalam surat al-Mukmin : 17
                 
Artinya: :
“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”. (Q.S. al Mukmin : 17)

Surga dan Neraka
A. Surga
Surga itu adalah  tempat  kehidupan  di akhirat  yang penuh  dengan kenikmatan yang hakiki dan abadi sebagai balasan bagi orang yang bertakwa, beriman dan  beramal  saleh , yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. Surga itu  sesuatu  yang  belum  pernah  dialami selama di  dunia oleh siapapun  dan  tidak dibayangkan keadaannya oleh pikiran dan gambaran dalam hati. Yang artinya : Diriwayatkan  dari Abu Hurairah r.a Rasulullah saw bersabda : Allah Ta’ala berfirman “ Aku telah menyediakan untuk hambaku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata dan belum pernah didengar telinga serta belum pernah tergoreskan dalam hati manusia (HR.Bukhari Muslim)

Surga itu tempat yang telah dijanjikan Allah untuk orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya dalam surat ali Imrãn ayat 133 :
      •        
Artinya :
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Ali-Imran :133)
Surga dijanjikan Allah untuk orang-orang beriman dan beramal saleh, sebagaimana firmannya dalam surat al-Baqarah ayat 25
     •  •                                  
Artinya :
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”.(Q.S. al Baqarah : 25)
Adapun nama-nama surga sebagai berikut :
1. Surga ‘Adn
2. Surga Na’îm
3. Surga Ma’wa
4. Surga Firdaus
5. Surge Dãrus-Salãm
6. Surga Dãrul Khulud
7. Surge Dãrul Muqomah
8. Surge Maqam Amîn

B. Neraka
Neraka adalah sesuatu tempat kehidupan di akhirat yang merupakan tempat penyiksaan yang sangat hebat dan dahsyat, yang dijanjikan Allah SWT bagi orang-orang kafir (ingkar kepada Allah SWT), orang-orang musyrik dan orang-orang munafik.
Firman Allah surat al-Baqarah ayat 24 :
     • •   ••       
Artinya :
“Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.(Q.S. al Baqarah : 24)
Adapun nama-nama neraka disebutkan dalam Al-Quran sebagai berikut :
1. Neraka Jahîm
2. Neraka Jahannam
3. Neraka Hawiyah
4. Neraka Huthamah
5. Neraka Saqar
6. Neraka Sa’ir
7. Neraka wail

Fungsi Iman Kepada Hari Akhir :

1. Menyadarkan manusia akan adanya hari akhir sebagai kehidupan yang hakiki bagi manusia.
2. Menyadarkan manusia bahwa kehidupan di hari akhir adalah tujuan setiap manusia yang hidup di dunia ini.
3. Menjadikan manusia bersikap hati-hati dalam hidup di dunia sehingga akan selalu taat kepada petunjuk-petunjuk agama dan mambatasi diri terhadap kesenangan hidup dunia.
4. Mendorong manusia untuk sebanyak mungkin berbuat baik dan sejauh mungkin meninggalkan perbuatan dosa karena sadar bahwa semua perbuatan manusia akan dibalas di hari akhir kelak.
5. Berusaha menjadi manusia yang baik selama hidup di dunia ini, yakni berbakti kepada Allah SWT., kepada kedua orang tuannya, dan berbuat baik terhadap sesama manusia.







6. Iman Kepada Qada dan Qadar
Secara bahasa Qada yang artinya ketentuan, penetapan, keputusan, atau kehendak. Sedangkan menurut  istilah Qada adalah ketentuan atau ketetapan Allah SWT. Bagi seluruh makhluk-Nya sejak zaman Azali. Sesuai dengan iradat-Nya.
Secara bahasa Qadar yang artinya kuasa mengerjakan sesuatu. Sedangkan qadar menurut istilah adalah perwujudan dari ketetapan Allah SWT. Sejak zaman Azali terhadap semua makhluk dalam kadar dan bentuk tertentu sesuai dengan iradat-Nya.
Qada dan Qadar Allah SWT ini tidak dapat diketahui oleh manusia, sehingga manusia  wajib mengimaninya dan wajib berikhtiar secara lahir dan bathin untuk mengubah nasibnya agar menjadi lebih baik, sebab Allah SWT tidak mengubah nasib seseorang kecuali orang tersebut yang mengubahnya.
Allah SWT berfirman :
……..            ……….   
Artinya :
“Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS Ar-Rad : 13)
Setelah berusaha dengan sekuat tenaga, baik secara lahir maupun batin, maka hasilnya diserahkan kepada Allah SWT sikap menyerahkan diri kepada Allah terhadap hasil usahanya ini disebut dengan tawakal.
Bukti-bukti adanya takdir Allah SWT.
Bukti-bukti adanya takdir Allah antara lain :
1. Manusia tidak dapat memilih kapan dan dimana ia dilahirkan,
2. Manusia tidak dapat memilih bapak dan ibunya ketika ia dilahirkan,
3. Manusia tidak dapat memilih bangsa dan tanah airnya ketika ia dilahirkan,
4. Manusia tidak dapat memilih jenis kelamin dan bentuk tubuhnya ketika ia dilahirkan,
5. Manusia tidak dapat memilih dan tidak dapat mengetahui, kapan dan dimana ia meninggal dunia.

Macam-macam Takdir
Takdir Allah SWT dibagi dua, yaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq.
1. Takdir mubram, ialah takdir Allah SWT yang tidak dapat ditolak, pasti terjadi, dan harus diterima oleh manusia. Misalnya jenis kelamin, warna kulit, kelahiran, kematian, dan terjadinya kiamat dan sebagainya.
2. Takdir mu’allaq, ialah takdir yang dapat diubah sesuai dengan ikhtiar manusia dan atas kehendak Allah SWT. Misalnya pandai, kaya, miskin, bodoh, sehat dll.

Fungsi Iman kepada Qada dan Qadar
Iman kepada qada dan qadar memiliki beberapa fungsi, antara lain :
1. Menumbuhkan kesadaran bahwa alam semesta beserta isinya berjalan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah.
2. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
3. Menumbuhkan sikap dan perilaku terpuji serta menghilangkan sikap dan perilaku tercela.
4. Mendorong umat manusia untuk melakukan usaha-usaha agar kualitas hidupnya meningkat.
5. Menghindari sikap sombong dan putus asa.
6. Menumbuhkan sikap tawaduk dan tawakal kepada Allah.


Tanda-tanda Orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
Keimanan kepada qada dan qadar Allah SWT akan berdampak positif bagi diri sendiri. Adapun dampak positif beriman kepada qada dan qadar Allah SWT, antara lain sebagai berikut :
1. Berjiwa qanaah
2. Berani manghadapi persoalan hidup karena yakin semuanya yang dialami ujian dari Allah SWT.
3. Memiliki keberhasilah dalam berjuang menegakkan islam karena yakin bahwa hidup dan mati ada pada kuasa Allah SWT.
4. Memiliki jiwa yang tenang, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik.
5. Mampu mengendalikan dirinya di saat suka maupun duka. Tidak pernah bangga jika usahanya berhasil, tidak mudah lemah semangat apabila usahanya belum berhasil.
6. Cukup tenteram hidupnya karena merasa bahwa dirinya dekat dengan Allah SWT.




















DAFTAR PUSTAKA


Rahayu ,Suci & Toifuri, 2007 Pendidikan Agama Islam SMA ( Jakarta: Ganesa Exact)
Sya’rawi, Syeikh Mutawalli 2006 Kenikmatan Taubat (Jakarta : QultumMedia)
syamsuri, Pendidikan Agama Islam 3 untuk SMA Kelas XII, Penerbit: Erlangga, Jakarta, 2007
Ibrahim T dan Darsono H, Membangun Akidah dan Akhlak 2 untuk Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah, Penerbit: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2008
Toto Suryana, Dkk, 1996. Pendidiakan Agama Islam. Bandung : Tiga Mutiara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar